Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Friday, May 31, 2013

Agun and Glasses , First Time Wearing glasses

SMP Negeri 2 Lohbener, iya benar. Awal sebelum menjadi SMP Negeri 1 Arahan dulunya bernama SMP Negeri 2 Lohbener karena memang pada saat itu masih kecamatan perwakilan dan belum ada pemekaran wilayah. Tahun 2003 Saya Agun Gunawan siswa kelas enam SDN Lamarantarung 1 yang sangat ingin sekali melanjutkan ke sekolah menengah pertama yang pada saat itu sangat difavoritkan oleh teman-teman sekelas saya yaitu SMP Negeri 2 Lohbener, anggapan masyarakat bahwa jika seorang siswa bersekolah disitu berarti dia anak yang lebih pintar dibandingkan anak yang bersekolah di SMPN 5 Sindang sekarangnya menjadi SMPN 1 Cantigi,  saya rasa itu hanya stigma saja, karena bisa saja anak SMPN 5 Sindang justru lebih pintar dari anak SMP Negeri 2 Lohbener, padahal salah satu alasan saya ingin sekolah disitu karena jarak yang lebih dekat daripada di SMPN 5 Sindang. 

Hari yang ditunggu pun telah tiba, pengumuman penerimaan siswa baru, saya bersama teman saya pada saat itu adalah Sapuri, Erdiyanto, carsinih, Daeniti, Dairoh, Runenti, Eka saeful anwar,Herman Irawan, Syai’in, dan saya agak lupa siapa yang ikut melihat pengumuman penerimaan itu kurang lebih ada dua puluh siswa, sungguh sangat disayangkan karena itu adalah awal perpisahaan dengan teman-teman SD saya yang mendaftar di SMP Negeri 2 Lohbener, dari dua puluh siswa SDN lamtar 1 dan 2 hanya enam siswa yang diterima di SMP Negeri 2 Lohbener, Alhamdulillah salah satunya adalah saya, seperti disekolah lainnya, sebelum memulai proses belajar saya dan teman-teman mengikuti kegiatan Masa Orientasi Sekolah atau lebih dikenal MOS, sejak itu saya sudah merasakan ada yang beda dengan mata saya, itu sebabnya saya mencari tempat duduk dikelas yang posisinya terdepan, tujuannya agar bisa baca tulisan dari dekat, akhirnya saya dapat tempat duduk persis di depan meja guru, teman satu bangku saya namanya hasan, sementara yg tepat dibelakang saya namanya wanto dan samping kanan saya Royani, sebelah bangku Royani adalah Etin kusniatin,   sedangkan posisi guru ada disebelah kanan (kiri dari saya) papan tulis nempel dengan tembok. Setiap kali menulis saya selalu melihat dari catatan Hasan, suatu ketika mungkin Hasan jengkel karena saya terlalu sering melihat catatannya, sampe-sampe dia melarang saya mencontek tulisannya padahal nggak lagi ulangan, hingga kata-kata menyinggung pun terlontar “katanya Ranking 1 masa baca tulisan aja nggak BISA???” agak lebay ya tulisannya hehehe, tapi emang dengan nada agak sedikit mengejek, dulu saat itu saya masih sangat sensitive dan cengeng abis, dalam hati saya sangat tersinggung dan marah banget tapi apa mau dikata, saya butuh nulis dari catatan dia, walaupun kadang2 ngintip tapi dia masih disembunyi-sembunyiin, arrggghh BeTe banget rasanya sekolah SMP, saya sempat stress tekanan batin hingga jatuh sakit gara-gara keanehan saya yang tidak seperti  siswa pada umumnya bisa membaca tulisan di papan tulis, sementara yang saya lihat buram dan nggak jelas gitu, rasanya sekolah SMP itu membosankan, nggak semangat, bĂȘte abis, benci banget kalo udah pagi, hingga saya sering melamun, murung dan gundah-gulana (saat itu belum ada galau), setiap kali jam empat pagi saya terbangun, saya lihat my beloved mom, papa, and sister semuanya masih terlelap tidur, saya terbangun karena merasa sangat takut dengan pagi, mendengar sahut-sahutan ayam jago, dan lantunan rekaman orang ngaji dari jarak kejauhan, tak kuasa rasanya menahan tangis, ada yang tahu kenapa saya bisa nangis? Yaps betul sekali karena saya nggak bisa ngaji hehehe (jadi malu udah SMP nggak bisa ngaji) yang pasti karena saat itu saya takut banget ke sekolah, kurang lebih satu minggu saya tidak masuk sekolah karena sakit, akhirnya saya ceritakan yang sebenarnya kepada ayah saya bahwa saya tidak bisa melihat tulisan dengan jelas tulisan yang berada agak jauh, ayah saya pun paham dan mengerti inilah yang menjadi penyebab murung, sedih dan gundah-gulananya saya setiap hari, hampir semua keluarga saya khawatir, ketika saya dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Indramayu, disana saya didaftarkan oleh ayah saya untuk berkonsultasi dengan spesialis mata, saya ingat nama dokternya itu dr. Partomo, sekarang pun masih dinas disitu.

Setelah diperiksa dan konsultasi ternyata mata saya mengidap rabun jauh (minus/miopi) saat itu saya memaksa untuk langsung memakai kacamata karena pada saat ditest mata saya merasa nyaman dan bisa baca tulisan dari kejauhan, tapi kata dokter nggak bisa langsung pakai kacamata, tapi harus melalui tahap perawatan dan perbandingan terlebih dahulu, mirip kaya’ dokter gigi yang saya tulis bulan lalu. Dua minggu berlalu mata saya tetap nggak bisa baca tulisan dari kejauhan, akhirnya mau ngga mau harus pake kacamata, saat itu saya minus  satu koma tujuh lima (-1,75) sph kanan dan sph kiri dengan cyl 0 (cyl = cylinder) itu yang saya baca dari resep dokter untuk ukuran kacamata yang harus saya beli, senang sekali rasanya pake kacamata baru, nggak pake lama langsung saja bergegas ke optic, saat itu ke Mutiara Optikal dan sampai saat ini pun saya masih berlangganan kacamata disitu. Saya kira dengan memakai kacamata masalah udah selesai, iya bener masalah untuk diri sendiri memang selesai tapi hujatan, hinaan, cacian dan anggapan baik itu teman-teman (yg nggak akrab) maupun masyarakat sering kali mem-bully, meledek bahkan menghina saya, seakan saya makhluk paling aneh sedunia, tapi justru dari semua itu saya……………

Bersambung ke “Agun and Glasses part 2”

No comments:

Post a Comment